
SuaraUMKM, Jakarta – Pembinaan Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak terkait, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selama ini, pembinaan UMKM tidak hanya terbatas pada bantuan permodalan berupa kredit atau dana hibah, tetapi UMKM juga lebih menyukai pembinaan dalam bentuk pelatihan dan pemasaran.
Eko Alif Muryanto, seorang pelaku UMKM yang menghasilkan sangkar burung dari limbah pipa di Solo, Jawa Tengah, mengungkapkan pandangannya mengenai bantuan yang diberikan kepada UMKM. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa bantuan berupa pinjaman lunak atau dana hibah sangat dibutuhkan, Eko lebih memilih bantuan dalam bentuk fasilitasi.
“Kalau UMKM semuanya klasik ya mas. Banyak dari mereka pasti lebih suka bantuan dana karena, karena dana itu fleksibel bisa untuk beli bahan baku, bisa untuk bayar karyawan dan sebagainya. Tapi kalau saya akan lebih memilih bantuan itu berupa fasilitasi,” kata Eko kepada media, Senin (26/06).
Baca Juga : Inilah Cara Mendapatkan Bantuan UMKM, Simak Caranya!
Fasilitasi yang dimaksud oleh Eko mencakup pembuatan dokumen-dokumen usaha dan surat keterangan resmi barang. Dokumen-dokumen tersebut sangat penting bagi UMKM-nya, terutama dalam rangka kegiatan ekspor.
“Misalkan difasilitasi pembuatan dokumen-dokumen usaha. Kalau saya pribadi, terutama di dokumen-dokumen pemasaran luar negeri, seperti PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) atau SKA (Surat Keterangan Asal Barang,” harap Eko yang merupakan UMKM binaan Rumah BUMN Solo tersebut.
Selain itu, bantuan berupa pelatihan pemasaran juga sangat diperlukan oleh UMKM, terutama dalam menjalin hubungan dengan calon pembeli dari luar negeri.
“Bisa juga bagaimana cara kita dapat buyer besar di luar, atau fasilitasi pelatihan-pelatihan yang bisa untuk pemasaran-pemasaran kita yang lebih luas. Kalau kita pemasaran lancar, pemasaran lebih luas, sehingga makin banyak orderan. Otomatis bantuan dana itu sudah tidak dibutuhkan lagi karena kita sudah punya banyak profit di situ,” ungkap pria yang sudah terjun di dunia UMKM sejak tahun 2018 ini.
Baca Juga : Melirik Blended Finance, Salah Satu Cara Pembiayaan UMKM di Malaysia
Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Wiwiek Widayati, pemilik Batik Widayati. Menurutnya, bantuan yang paling dibutuhkan adalah dalam hal pemasaran.
“Karena untuk pengembangan pasar dan menjangkau market baru,” ujar Widayati.
“Kami selalu mengupayakan keselarasan produk dengan pengalaman pelanggan, sehingga pada gilirannya nanti misi untuk menjadi pertama yang diingat pelanggan ketika membutuhkan fashion batik itu adalah produk kami,” ujar Widayati yang juga tercatat sebagai binaan Rumah BUMN Solo.
Sumber : Merdeka.com





