
SuaraUMKM, Jakarta – Siapa sangka, daun singkong yang biasa jadi lauk sederhana bisa disulap menjadi camilan renyah yang tembus pasar nasional?
Itulah yang dilakukan oleh Herina Yuni Utami, pendiri Dendeng Pucuk Ubi Wak Idah, UMKM asal Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, yang kini sukses membawa cita rasa khas daerahnya hingga ke layar TV nasional lewat acara Juragan Zaman Now Season 4 di Metro TV.
Berawal dari masa sulit pandemi COVID-19 pada tahun 2020, Herina mencari cara agar tetap produktif dan membantu keuangan keluarga. Dari dapur kecil di rumahnya, ia mulai mengolah pucuk ubi menjadi dendeng gurih pedas khas Sumatera. Tak disangka, produk itu disukai banyak orang dan berkembang menjadi bisnis yang kini dikenal luas.
“Awalnya saya hanya ingin bertahan di tengah pandemi. Tapi ternyata, dari sesuatu yang sederhana seperti daun singkong, saya bisa membuka lapangan kerja dan membantu ibu-ibu di sekitar saya. Dendeng ini bukan sekadar produk, tapi bukti bahwa semangat dan ketekunan bisa mengubah keadaan,” ujar Herina Yuni Utami, pendiri Dendeng Pucuk Ubi Wak Idah.

Dari Pucuk Ubi Jadi Produk Premium
Berbeda dari dendeng pada umumnya yang berbahan dasar daging, Wak Idah justru menggunakan daun singkong muda (pucuk ubi) — bahan lokal yang kaya gizi dan serat.
Melalui proses pengeringan dan bumbu khas tradisional, terciptalah cita rasa gurih, pedas, dan renyah yang menjadi ciri khas produk ini.
Selain keunikannya, dendeng ini juga:
- Tanpa pengawet & MSG berlebih
- Tahan lama & aman untuk semua usia
- Dibuat dengan resep warisan keluarga
- Tersedia dalam varian rasa cabai merah dan cabai hijau khas Sumatera Selatan
Dengan kemasan modern namun tetap mempertahankan nuansa tradisional, produk ini cocok sebagai oleh-oleh khas Lubuk Linggau maupun camilan premium rumahan.

Dari Manual ke Digital: Tantangan yang Jadi Pelajaran
Tak mudah memperkenalkan produk unik seperti ini. Di awal, banyak konsumen ragu mencoba karena belum familiar dengan konsep dendeng daun singkong.
Herina pun rajin memberi tester gratis, aktif promosi di media sosial, dan belajar branding digital dari nol.
Keterbatasan alat produksi dan tenaga manual sempat jadi kendala besar — tapi justru dari situ, Herina belajar manajemen bisnis dan pentingnya inovasi dalam promosi.
Kini, Dendeng Pucuk Ubi Wak Idah telah berkembang pesat dan bisa ditemukan di berbagai platform digital:
Dan bisa diikuti di media sosial resmi mereka:

Pemberdayaan Lokal dan Cita Rasa yang Mendunia
Lebih dari sekadar bisnis kuliner, Herina menjadikan usaha ini sebagai bentuk pemberdayaan perempuan di lingkungan sekitarnya. Ia menggandeng ibu-ibu rumah tangga untuk membantu proses produksi, membuka kesempatan ekonomi baru bagi banyak keluarga.
“Inovasi seperti Dendeng Pucuk Ubi Wak Idah adalah contoh sempurna bahwa ide sederhana bisa jadi besar bila dikelola dengan visi dan ketekunan,” ujar Coach Faran, Founder Wiranesia Inkubator.
“Kami di Wiranesia terus mendorong UMKM seperti ini agar naik kelas, berdaya saing digital, dan menjadi inspirasi nasional.”

Dari Lubuk Linggau untuk Indonesia
Kini, Dendeng Pucuk Ubi Wak Idah menjadi salah satu finalis PFpreneur 2024 – Pertamina Foundation, program bergengsi yang membantu UMKM berkembang lewat pelatihan, mentoring, dan promosi nasional.
Keikutsertaan Herina dalam program ini membuktikan bahwa produk lokal pun bisa menembus panggung nasional, asal dijalankan dengan tekad dan semangat belajar.
“Harapan saya sederhana, semoga produk ini bisa jadi ikon oleh-oleh khas Sumatera Selatan, bahkan go global. Saya ingin menunjukkan bahwa UMKM daerah juga bisa bersaing,” tutup Herina penuh semangat.





