
SuaraUMKM, Jakarta – Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), IPB University, menyelenggarakan Sidang Promosi Doktor atas nama Fachmi Ibrahim dengan disertasi berjudul “Komunikasi untuk Mekanisme Adaptif Pengembangan Wirausaha Mikro Penyandang Disabilitas Daksa”. Sidang berlangsung di Ruang Seminar FEMA IPB University, Dramaga, Bogor, dan menjadi momentum penting dalam penguatan wacana pemberdayaan ekonomi inklusif bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Disertasi ini mengangkat realitas tantangan multidimensi yang dihadapi wirausaha mikro penyandang disabilitas daksa, mulai dari hambatan fisik, keterbatasan akses modal dan pelatihan, hingga stigma sosial serta kebijakan yang belum sepenuhnya afirmatif. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 16 persen populasi dunia merupakan penyandang disabilitas. Sementara di Indonesia, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2020 mencatat lebih dari 28 juta penyandang disabilitas, namun hanya sekitar 720 ribu orang yang terlibat dalam aktivitas kerja formal maupun informal.

Dalam penelitiannya, Fachmi Ibrahim menegaskan bahwa komunikasi resiliensi berperan sebagai mekanisme utama yang memungkinkan pelaku wirausaha disabilitas daksa bertahan dan beradaptasi. Komunikasi berfungsi sebagai jembatan antara dukungan eksternal—keluarga, komunitas, lembaga pemerintah, dan sektor swasta—dengan kekuatan adaptif internal pelaku usaha. Melalui komunikasi yang efektif, pelaku usaha mampu membangun jejaring, mengartikulasikan kebutuhan, serta mengembangkan strategi adaptasi kreatif seperti penyesuaian produk, kolaborasi komunitas, dan pemanfaatan teknologi sederhana.
Disertasi ini juga merekomendasikan penerapan intervensi pemberdayaan berbasis tipologi adaptif, di mana program pelatihan dan pendampingan disesuaikan dengan posisi adaptif masing-masing pelaku usaha disabilitas. Pendekatan ini dinilai lebih tepat sasaran dibandingkan program yang bersifat seragam dan administratif.
“Setiap intervensi kepada wirausaha disabilitas harus diawali dengan asesmen kebutuhan yang komprehensif. Tanpa pemetaan yang tepat, program pemberdayaan berpotensi tidak memberikan dampak nyata,” ujar Dr. Akhmad Soleh, S.Ag., M.Si., penguji disertasi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sementara itu, Dr. Dwi Retno Hapsari, M.Si., penguji dari IPB University, menekankan bahwa dukungan ekosistem terdekat seperti keluarga dan komunitas memiliki peran krusial, terutama pada fase kritis adaptasi dan pemulihan pelaku usaha disabilitas.

Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Yanto Santosa, DEA, dengan komisi pembimbing Prof. Dr. Ir. Pudji Muljono, M.Si., Dr. Ir. Djuara P. Lubis, M.S., dan Dr. Ir. Dwi Sadono, M.Si., serta dihadiri Ketua Program Studi KPPD IPB University Dr. Ir. Sarwititi Sarwoprasodjo, M.S.. Pada ujian tertutup sebelumnya, penguji luar komisi Dr. Faransyah Jaya, S.E., M.SF. (Coach Faran) juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas pelatihan UMKM yang aksesibel bagi peserta disabilitas.
Melalui disertasi ini, diharapkan pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat mendorong kebijakan serta program pemberdayaan wirausaha disabilitas daksa yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Pendekatan berbasis komunikasi resiliensi diyakini mampu memperkuat kemandirian ekonomi penyandang disabilitas sekaligus memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam pembangunan nasional.





