
SuaraUMKM, Jakarta – Di tengah gempuran tren fashion cepat yang seragam dan instan, hadir sebuah nama dari Banjarnegara yang menawarkan hal sebaliknya—unik, lambat, dan penuh makna: Dmakara Ecoprint. UMKM ini bukan sekadar menjual kain atau pashmina. Ia menawarkan filosofi hidup, penghormatan terhadap alam, dan bentuk seni yang tak bisa diulang dua kali.
Didirikan oleh Chusnul Chotimah pada tahun 2022, Dmakara Ecoprint lahir dari cinta terhadap bumi dan seni. Ia memadukan teknik pewarnaan alami dengan daun, bunga, dan kulit kayu yang diproses manual. Setiap karya tidak bisa disalin, tidak bisa diprediksi, dan tidak bisa ditiru—karena ia mengikuti jejak alam.
“Bagi kami, setiap daun yang jatuh bukan hanya sampah, tapi potensi. Kami hanya mengambil apa yang alam beri dengan ikhlas, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dipakai manusia dengan penuh hormat,” ungkap Chusnul.

Kenapa Dmakara Ecoprint Berbeda?
1. Motif Alami yang Tak Pernah Sama
Setiap lembar pashmina atau kain adalah satu-satunya di dunia. Tidak ada produk yang benar-benar sama.
2. Ramah Lingkungan & Berkelanjutan
Tidak ada bahan kimia berbahaya, tidak ada limbah yang mencemari tanah. Proses handmade-nya seperti meditasi: sabar, teliti, dan menyatu dengan ritme alam.
3. Estetika Elegan & Budaya Lokal
Motif-motif daun lokal Banjarnegara dan warna alam menjadikan setiap karya sebagai bentuk pelestarian identitas Indonesia.

Tantangan di Balik Keindahan
Meski tampil memesona, Dmakara Ecoprint menghadapi berbagai rintangan nyata. Salah satunya adalah edukasi pasar.
“Banyak konsumen belum paham bahwa ketidaksempurnaan motif adalah ciri khas handmade, bukan cacat. Dan karena prosesnya rumit, produk ecoprint tidak bisa dihargai seperti kain biasa,” jelas Chusnul.
Variasi warna karena musim, keterbatasan bahan, hingga keterbatasan skalabilitas membuat produk ini sulit untuk diproduksi massal. Namun itulah nilai uniknya—slow fashion dengan jiwa, bukan fast fashion tanpa makna.

Kata Coach Faran: UMKM Harus Jujur pada Nilainya
Menurut Coach Faran, founder dari Wiranesia Inkubator, UMKM seperti Dmakara punya posisi khusus di industri kreatif:
“UMKM yang seperti Dmakara tidak hanya menjual barang, tapi juga kesadaran. Mereka mengajarkan bahwa karya bisa ramah lingkungan, memiliki nilai budaya, dan tetap layak jual. Tantangannya memang edukasi pasar, tapi ke depan, inilah yang dicari pasar global.”

Capaian & Dampak Sosial
- Masuk TOP 350 pfPreneur 2024
- Ikut serta dalam berbagai event fashion dan pameran lokal
- Memberdayakan perajin lokal untuk belajar teknik ecoprint
- Konsisten memproduksi walau tantangan alam dan pasar terus berubah
“Saya mulai dari halaman rumah, hanya dengan rasa penasaran dan cinta terhadap daun-daunan. Kini, setiap produk Dmakara adalah suara dari tanah kelahiran saya, dan suara dari hati saya.” – Chusnul Chotimah
Siapa yang Cocok dengan Produk Dmakara?
-Wanita usia 25–60 tahun
-Pecinta produk handmade & ramah lingkungan
-Peminat fashion yang unik, artistik, dan tidak massal
-Mereka yang mencari nilai spiritual & emosional dalam produk yang dipakai
Kenali & Dukung Dmakara Ecoprint:
- Pekauman, Madukara – Banjarnegara, Jawa Tengah
- WhatsApp: 0812-3123-9735
- Email: dmakaraecoprint@gmail.com
- Instagram: @d.makara_ecoprint
- Facebook: Dmakara Ecoprint
- TikTok: @dmakaraecoprint
SuaraUMKM.com percaya, di balik UMKM yang baik ada nilai yang besar. Dan di balik setiap cetakan daun Dmakara Ecoprint, ada pesan: alam tidak mencetak ulang, jadi kenapa kita harus seragam?
“Dmakara adalah bukti bahwa dari desa kecil pun bisa tumbuh karya besar—asal dikerjakan dengan hati, rasa hormat pada alam, dan kejujuran pada proses.” – Coach Faran.





