
SuaraUMKM, Jakarta – Di balik aroma renyah roti kering jadul yang menggoda, ada cerita warisan puluhan tahun yang kini berkembang menjadi bisnis UMKM tangguh. Inilah kisah inspiratif dari Sido Maju Marsudi, usaha kuliner rumahan dari Desa Congkrang, Muntilan – Magelang, yang berhasil menembus toko oleh-oleh wisata dan marketplace nasional.
Didirikan sejak tahun 1980-an dan kini diteruskan oleh pasangan suami istri, Dewi Endang Susilowati dan suami, Sido Maju Marsudi menyajikan roti huruf S dan sagon kelapa khas tempo dulu yang membawa nostalgia di setiap gigitan. Uniknya, mereka tidak sekadar berdagang, tetapi juga membawa filosofi: berusaha maju dan sungguh-sungguh—sebagaimana arti nama “Marsudi”.

Produk Lawas, Kemasan Cerdas
Di tengah tren makanan modern, Sido Maju Marsudi justru unggul karena autentisitas. Produk seperti roti S dan sagon dibuat dari resep lama yang diwariskan langsung dari pabrik roti legendaris Muntilan—SIDODADI.
“Kami memanfaatkan bahan alami seperti kelapa segar dari kebun sendiri, tanpa pengawet dan pewarna. Produk kami juga hadir dalam dua versi: kemasan bal-balan ekonomis untuk pasar tradisional, dan kemasan premium untuk oleh-oleh dan kantor,” jelas Dewi.
Kualitasnya pun bukan kaleng-kaleng. Legalitas lengkap (NIB, PIRT, dan Halal) membuat produk ini siap masuk jaringan ritel modern dan pameran nasional.

Segmen Ganda, Strategi Cerdas
Dengan pengalaman turun-temurun dan adaptasi pasar, Sido Maju Marsudi berhasil menjangkau dua dunia:
- Pasar Tradisional & Reseller – Harga grosir yang cocok untuk pedagang pasar.
- Pasar Premium & Instansi – Kemasan rapi dan berizin untuk konsumen menengah atas, kantor pemerintahan, hingga toko oleh-oleh.
Mereka bahkan sudah masuk ke tempat wisata dan toko oleh-oleh lewat sistem konsinyasi, memperluas jangkauan hingga ke wisatawan domestik dan mancanegara.

Coach Faran: “Contoh UMKM yang Naik Kelas dari Akar Tradisi”
“Sido Maju Marsudi adalah contoh UMKM yang berhasil naik kelas tanpa meninggalkan akar tradisi. Mereka memadukan resep warisan dengan branding dan legalitas yang kuat—ini formula yang harus ditiru UMKM lain jika ingin bertahan dan tumbuh di era digital.”
— Coach Faran, Founder Wiranesia Inkubator

Tantangan Bukan Penghalang, Tapi Batu Loncatan
Menjaga kualitas bahan segar dan konsistensi rasa dalam skala besar adalah tantangan nyata. Tapi Dewi dan suami menghadapinya dengan strategi:
- Manajemen stok bahan baku mandiri
- Investasi alat produksi secara bertahap
- Inovasi kemasan tanpa menaikkan harga drastis
“Kami ingin tetap bisa melayani pelanggan pasar tradisional, sekaligus masuk ke ranah oleh-oleh wisata. Ini bukan soal besar kecilnya usaha, tapi seberapa besar tekad kita menjaga kualitas dan sejarah,” ujar Dewi.

Dari Muntilan ke Nasional: Jejak Prestasi
- Lolos seleksi Top 350 UMKM Nasional dalam program PFpreneur Pertamina Foundation
- Produk dipercaya masuk toko oleh-oleh dan rest area wisata
- Reseller aktif di beberapa pasar tradisional
- Diundang ke berbagai pameran dan bazar resmi oleh instansi dan BUMN

Info Kontak & Media Sosial
- Alamat: Besaran, RT 016/RW 008, Desa Congkrang, Kec. Muntilan, Kab. Magelang, Jawa Tengah
- Whatsapp: 0817-7041-5462
- Instagram: @sidomaju_marsudi
- TikTok: @sidomaju_marsudi
- Shopee: shopee.co.id/sidomaju_marsudi
- Lazada: Klik di sini
- Website: sidomaju-marsudi – Google Sites
Harapan dari Sido Maju Marsudi
“Kami ingin produk kami dikenal lebih luas. Kami percaya bahwa usaha warisan keluarga bisa terus hidup, bahkan berkembang, kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh. Harapan kami, cerita ini bisa jadi semangat untuk UMKM lain agar tidak malu dengan produk tradisional—karena justru di situlah keunggulannya.”
SuaraUMKM.com percaya bahwa kisah seperti ini harus lebih sering diangkat—bukan hanya karena enaknya produk, tapi karena semangat dan konsistensi yang layak dijadikan inspirasi.





