
SuaraUMKM, Jakarta – Tantangan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) semakin besar di masa depan. Para pelaku UMKM diharapkan lebih adaptif dalam menghadapi perubahan pasar, fleksibel, dan terus belajar mencari pasar serta mengikuti perkembangan digital. Statistik menunjukkan bahwa UMKM menyumbang sebesar 61,97% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2022, dengan nilai kontribusi mencapai Rp8.573,89 triliun. Meski demikian, tantangan seperti akses pasar masih menjadi kendala yang signifikan.
Banyak pelatihan yang berfokus pada UMKM Go Digital dan Home Boarding UMKM cenderung memberikan materi yang bersifat umum dan tidak relevan bagi peserta yang memiliki latar belakang berbeda. Hal ini menjadi hambatan bagi pelaku UMKM untuk berkembang lebih spesifik sesuai bidang mereka. Sebanyak 83,9% UMKM mengalami kesulitan dalam memasarkan produk mereka, menekankan bahwa akses pasar adalah tantangan utama, bahkan lebih penting dari sekadar permodalan.
Faransyah Agung Jaya, atau yang akrab disapa Coach Faran, seorang pengamat UMKM dan pendiri Wiranesia Foundation, turut memberikan solusi atas tantangan tersebut. Sebagai tokoh yang juga mendirikan One Integra Ventures dan Lembaga Sertifikasi Profesi DigiPreneur Indonesia, ia menyarankan penciptaan sebuah custom curriculum matrix bagi pelaku UMKM. Menurutnya, dengan membuat kurikulum yang disesuaikan berdasarkan latar belakang, industri usaha, dan tingkat omset, UMKM dapat menerima pembelajaran yang lebih relevan dan efektif.

“Kurikulum costum ini dirancang seperti sistem pembelajaran tematik, di mana setiap tingkatan materi semakin mendalam seiring dengan perkembangan usaha,” ujar Coach Faran. Pendekatan ini dianggap penting, karena hanya 16% UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital, meski studi menunjukkan bahwa digitalisasi dapat meningkatkan penjualan hingga 26%.
Dalam menghadapi tantangan digital dan akses pasar, Coach Faran berharap pelaku UMKM dapat memperoleh solusi yang lebih konkret melalui program-program pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Hal ini termasuk upaya memperluas akses pasar, karena hanya 14,7% UMKM yang telah memiliki akses ke pasar global, dan sebagian besar masih bergantung pada pasar lokal yang terbatas.
Dengan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi, solusi berbasis kurikulum yang disesuaikan seperti yang diusulkan oleh Coach Faran menjadi sangat relevan dalam membantu UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di pasar yang kompetitif.





