
SuaraUMKM, Jakarta – Pandemi COVID-19 telah mendorong percepatan transformasi digital di berbagai sektor di Indonesia, termasuk sektor UMKM. Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa sebanyak 25,4 juta pedagang atau merchant skala UMKM di Indonesia telah mengadopsi teknologi digital dengan memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Menurut Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, QRIS yang diperkenalkan pada tahun 2019 telah menjadi berkah di tengah pandemi. Saat ini, penggunaan QRIS oleh pelaku UMKM mengalami pertumbuhan yang pesat, menunjukkan kesadaran mereka akan pentingnya transformasi digital dalam menjalankan usaha.
Baca Juga : Pelaku UMKM Asal Batam Siap Adaptasi Sistem Pembayaran QRIS Antarnegara
“Per April lalu sudah 25,4 juta merchant (pakai QRIS). Kita tahu bahwa kalau melihat unit usaha ada sekitar 66 juta merchant, 99 persen usaha kecil, dan sudah 25,4 juta merchant menggunakan QRIS. Ini UMKM kita sudah mulai melek digital,” tuturnya dalam Forum Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2023 di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/5).
Tidak hanya digunakan secara domestik, BI dan Bank Negara Malaysia (BNM) juga baru-baru ini meresmikan implementasi interkoneksi pembayaran antara kedua negara dengan menggunakan QR Code. Hal ini berarti QRIS kini dapat digunakan untuk transaksi di Malaysia, negara tetangga Indonesia.
Baca Juga : Pulihkan Ekonomi, Bank Indonesia Berdayakan 3.825 Warung Mikro
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa QRIS dapat digunakan oleh toko fisik maupun online di Malaysia, asalkan mereka menggunakan layanan yang disediakan oleh penyedia jasa pembayaran yang berpartisipasi dalam skema ini.
Perry menekankan bahwa terhubungnya pembayaran QR antara Indonesia dan Malaysia merupakan penguatan kerja sama dalam kerangka Regional Payment Connectivity (RPC). Selain itu, hal ini juga mendorong terciptanya sistem pembayaran lintas negara yang lebih cepat, efisien, transparan, dan inklusif, terutama bagi UMKM.
“Mendorong inklusi ekonomi dan keuangan digital di kawasan, serta mendukung stabilitas makroekonomi dengan mendorong penggunaan mata uang lokal secara lebih luas untuk transaksi bilateral dalam kerangka transaksi mata uang lokal,” ucap Perry.
Sumber : CNN Indonesia





