
SuaraUMKM, Jakarta – Ada berkah dibalik musibah atau “Blessing In Disguise” mungkin inilah istilah yang tepat untuk menggambarkan digitalisasi UMKM karena pandemi. Hal inilah yang menjadi perhatian Faransyah Agung Jaya atau akrab disapa Coach Faran dalam VOI Biztalk di RRI dengan tema “Tancap Gas, UMKM Naik Kelas”. Acara ini dipandu oleh Expert Host Dr. Wahyu Setyobudi, beliau merupakan Global Business Marketing dari Binus University. Sebelum pandemi terjadi, ada perbedaan signifikan para pelaku UMKM melihat digitalisasi. Meski sudah digaungkan sejak 2010, digitalisasi nyatanya tidak menjadi perhatian serius pelaku UMKM karena belum melihat adanya signifikansi manfaat dari hal tersebut.
Coach Faran menyoroti hal tersebut dan melihat banyak pelaku UMKM merasa cukup dengan omzet yang diraihnya dari berjualan secara tatap muka. Pada kenyataan memang berjualan keliling di sekitar rumah cukup memberikan pendapatan bagi banyak pelaku UMKM. Namun merebaknya pandemi Covid-19 merubah banyak hal, termasuk sektor usaha yang terdampak dan harus menyesuaikan. Para pelaku UMKM yang tadinya menjual secara tradisional tidak bisa lagi menjajakan produknya di sekitar lingkungannya karena terhalang PSBB atau aturan pemerintah.

Coach Faran mengungkapkan hal ini telah memaksa para UMKM untuk menjadi adaptif karena terdampak pandemi. Salah satu adaptasi itu adalah teknologi, banyak UMKM yang beralih ke digital. Beliau pun menyebut ada berkah dibalik musibah dari pandemi.
“Pandemi ini sebetulnya ada blessing in disguse-nya, sesuatu yang bermanfaat untuk UMKM. Dengan pandemi dipaksa untuk go digital. Nah, go digital inilah menembus batas, tidak hanya batas komplek rumah tetapi juga batas negara. Jika batasnya sudah tidak ada, ada yang harus dipersiapkan oleh UMKM,” ujar Coach Faran.

Efek pandemi membuat pelaku UMKM memutar otak demi keberlangsungan usahanya. Karena menurut penelitian UNDP-FEB UI, sektor UMKM ini merosot pendapatannya sampai di atas 80 persen. Akibatnya tentu, mereka harus mengadopsi digitalisasi untuk survive. Patut dicatat bahwa jumlah UMKM menurut Kemenkop UKM mencapai 64 juta saat pandemi. Jumlah ini menyimpan potensi tetapi juga masalah. Masalahnya adalah belum semua UMKM go digital. Oleh karena itu menurut Coach Faran pihaknya melalui Wiranesia ikut terlibat dalam akselerasi digitalisasi UMKM.
“Sekarang ini memang tantangannya ada di UMKM karena dari pemerintah minta UMKM yang go digital sampai 30 juta. Beberapa kementerian terlibat. Oleh karena itu Wiranesia ini berupaya terlibat aktif dalam membantu digitalisasi UMKM baik dalam pendampingan maupun pelatihan,” ungkap Coach Faran.
Baca Juga : Tren Konsumen Digital Akan Berubah, UMKM Go Digital Harap Simak Ini
Coach Faran menyebut 98,7 persen UMKM itu adalah sektor mikro yang struggle sendirian, ini menjadi tantangan. Dengan jumlah terbanyak, sektor mikro masih terhalang infrastruktur dari kendala signal hingga teknologi yang digunakan.
“Sektor mikro ini mereka bisa dibilang sebagai CEO (Chief Everything Officer). Jadi apa-apa dikerjakan sendiri, dari produksi sampai tagihan. Karena itu di Wiranesia kita mulai dari skill dulu, lalu literasi, minimal paham apa itu go digital. Semuanya memang perlu digandeng untuk mengatasi tantangan UMKM ini,” ujar Coach Faran.

Selain itu faktor mindset juga harus dibenahi oleh pelaku UMKM. Mindset sebelum pandemi memberikan pelajaran penting bahwa semakin nyaman UMKM untuk tidak adaptif maka akan sulit untuk bertumbuh. Hal ini nampak ketika pandemi terjadi saat UMKM harus terbatas akses pasarnya dan berimbas ke omzet yang menurun. Soal mindset ini Coach Faran menegaskan tidak bisa tidak untuk UMKM mengabaikan hal tersebut. Menurutnya mindset menjadi hal yang sulit diubah karena perilaku. Mindset yang ingin adaptif dan terus berkembang sangat penting untuk UMKM yang memasuki fase digitalisasi.
“Saat ini memang mindset yang ada belum maksimal, karena efek pandemi mindsetnya terpaksa. Terpaksa untuk go digital. Oleh karena itu di Wiranesia kita pakai metode INSPIRASI. INSPIRASI ini kita tunjukkan dan ceritakan UMKM yang berhasil (teman-temannya) agar cepat adaptasi. Skemanya adalah pendampingan berkelompok,” kata Coach Faran.
Baca Juga : Workshop Wiranesia dan Koinworks Neo Batch 3 digelar di Kelurahan Pejaten Barat
Lebih lanjut mengenai pendampingan berkelompok ini, Coach Faran mencontohkan di Wiranesia sudah dilakukan dan omzetnya terbukti naik. Tiap kali selesai melakukan pelatihan, baik itu di kelurahan maupun di pemerintahan selalu dilakukan volunteering pendampingan. Hal ini sejalan dengan visi dan misi Wiranesia adalah UMKM go digital. Mengenai inkubasi, hal yang dilakukan oleh Wiranesia berbeda dengan inkubasi bisnis startup kebanyakan. Coach Faran menyebut inkubasi yang dilakukan oleh Wiranesia sebagai Inkubator UMKM. Hal karena karakteristik antara startup dan UMKM sangatlah berbeda sehingga pendekatannya juga berbeda.
“UMKM kita mulainya dari basic dahulu, pertama dari mindset. Kedua, motivasi, dan ketiga kita beri literasi. Literasi kita berharap UMKM tahu mesti ngapain. Semua ini pendekatannya sosial karena kita tidak bisa memaksa sebagaimana pendekatan ke perusahaan. UMKM akan dibantu bila kesulitan bisa melalui WhatsApp atau bertemu langsung,” jelas Coach Faran.
Mindset diakui Coach Faran menjadi yang paling sulit bagi UMKM yang ingin akselerasi untuk digitalisasi. Karena mindset adalah langkah pertama yang dibutuhkan. Ketika mindset ini tidak ada dalam pelaku UMKM maka akan sulit untuk selanjutnya diberikan motivasi dan literasi. Untuk mengatasi problem mengenai mindset ini Coach Faran mengajak mereka yang sudah tergabung untuk turut pula mengajak teman mereka. Jadi lingkungan yang mengajak secara berkelompok.

“Untuk sekarang di Wiranesia kita mulai dengan sederhana dulu bagi mereka yang serius kita masukkan ke pendampingan/inkubator. Pendampingan ini bentuknya konsultasi dan kunjungan. Harapannya ada yang mau 10 saja dari 100 orang. 10 orang inilah nantinya akan menginspirasi atau menarik yang 100 (orang) ini. Kita tentunya tidak bisa memaksa. Maka dari mindset itu yang penting. Mindset yang tidak mau berubah akan sulit,” pungkas Coach Faran.
Tahun-tahun ke depan sesudah pandemi Covid-19 berakhir adalah tahun titik balik bagi ekonomi Indonesia. Terutama bagi mereka yang sudah adaptasi untuk transformasi ke digital ini memberikan banyak kesempatan. Namun banyaknya hambatan dari infrastruktur sampai mindset yang perlu di atasi bisa jadi penghalang. Di sinilah peran inkubator UMKM seperti Wiranesia untuk membantu UMKM akselerasi digitalisasi.
Wiranesia yang didirikan oleh Coach Faran telah 8 tahun membangun ekosistem kewirausahaan digital di Indonesia. Saat ini ada 894 UMKM dari 136 kabupaten dan kota telah tergabung di Wiranesia. Banyak di antara mereka telah memberikan pendampingan di daerahnya masing-masing dan telah banyak membantu UMKM untuk go digital dan naik kelas. Informasi lebih lanjut mengenai Wiranesia dapat diakses melalui website resmi di www.wiranesia.org





